Powered By Blogger

Sabtu, 10 Mei 2014

Power famili




   Sebuah rumah yang cukup besar di jalan Pancasila. Di rumah itu di huni oleh keluarga Hamim. Di rumah itu di mulailah cerita yang berawal dari Dama anak tertua dari keluarga tersebut.
   Kamar lusuh berantakan. Kas ciri dari seorang anak cowok. Dama pagi itu barusan bangun dari tidurnya. Dengan mata masih sembab, ia secara otomatis memulai aktivitas paginya yang suda terekam di benaknya.
   Berdiri, ia pun lalu ngeluyur menuju ke ruangan penuh air. Di dalam situ, kran alam berderai, nyaring berbunyi dan bikin kenikmatan di dunianya.
   Pintu kamar terbuka. Setelan celana jins dan baju kotak-kotak bercorak garis hijau dan merah jingga dengan daleman kaos hitam. Dama lalu keluar dari kamarnya itu. Dengan lengan baju di lipat. Dama pun nyantai melengang. Melewati ruang makan. Bundanya itu memanggil sarapan. Di ruang makan keluarga Hamim, suda ada Bunda, Ayah, Kakek, Nenek dan dua adiknya Dian dan Didi.
   Tak lama setelah Dama duduk di meja makan. Dian suda menyelesaikan sarapannya dan di lanjutkan Didi juga suda rampung.
"Ma, pa! Dian pamit berangkat sekolah dulu ya," pinta si gadis cantik berjilbab putih itu. Dian lalu bersaliman pada ayah dan bundanya juga pada kakek dan neneknya.
"Hati-hati di jalan ya sayang," lanjut bundanya.
"Siap bos!" Dian lalu keluar melewati dapur dan ia langsung melesat mengudara.
"Ma, pa  Didi juga pamit ya." Didi pun melakukan yang sama seperti yang di lakukan kakaknya itu. "Kak Dian tunggu...," setelah bersaliman, Didi juga langsung menghilang setelah menengok ke belakang.
"Suda waktunya ini. Ma! Papa berangkat ngantor dulu ya." Bundanya Dama itu lalu mencium tangan suaminya.
"Hati-hati di jalan pa..."
"Iya?" cowok berpenampilan culun berkacamata agak tebal itu lalu keluar dari rumah tampak melihat ke depan, ia sibuk memeriksa dokumen yang di bawahnya. Dan ia hanya lewat begitu saja keluar berangkat.


   Kakek dan neneknya juga suda selesai sarapan. Ke duanya lalu keluar dari ruang makan dengan gaya mesra seperti barusan diner romantis.
"Ma!" tampa basa basi Dama lalu bersaliman memohon diri.
"Woe, Dama! Ayo...," teriak Erru teman kuliahnya dari luar. Selesai bersaliman pada bundanya. Dama segera berlari keluar. Bundanya itu pun mengikuti.
"Dama, hati-hati ya di jalan. Hanya kamu yang masih belum ...," ujar bundanya.
"Iya, suda tau...," Dama terus berjalan keluar dan menemui temannya itu.
 Di luar, Erru suda standbay di atas motor vespanya.
"Ayo, suda siap!" langsung Erru.
"Oke!" Dama lalu duduk di belakang Erru dengan mengenakan helm dari temannya itu barusan.
    Dari dalam rumah. Suara musik metalika pun berkumandang keras. Dengan nyanyian menghentak-hentak.
"Dam, kira-kira papa mu, tau ndak dengan selera musik mamamu itu," tebak tanya Erru.
"Suda. Ayo, jalan aja!" pintanya.
    Si vespa kesayangan Erru itu pun melaju dengan suara mengerikannya.

   End, cukup pengenalannya. Dan para pemeran yang lainnya dan akan muncul nanti, tunggu aja OC

Desa Labuhan dan air ajaib



 
    Mitos sejarah. Sebuah desa antabranta bernama Labuhan. Di desa itu konon terdapat suatu air ajaib yang memiliki khasiat, barang siapa yang meminum air tersebut niscaya orang itu akan memiliki kehebatan mumpuni. Dan desa itu di kenal hanya sebuah mitos belakah oleh masyarakat yang belum ada yang tau keberadaannya.

   Tahun 2345. Di tahun ini tidak ada perubahan sama sekali seperti masa berpuluh-puluh tahun yang lalu. Manusia masih terbang melayang di atas tanah. Bulan tetap jadi tempat favorit untuk bulan madu. Dan planet mars jadi surga belanja bagi para manusia alien.
     Naskal, ia seorang yatim piatu yang saat ini tinggal di panti asuhan. Naskal memiliki seorang teman yang cukup akrab dengannya namanya adalah Djun.
   Nextkaliren ia adalah seorang pahlawan besar dari kota yang bernama Ultramegapolitan ini. Beliau adalah orang yang menggagas konsep sistem pembangunan kota super modern hingga jadi kota yang seperti sekarang ini. Atas jasanya itu, Nextkaliren di buatkan sebuah patung raksasa oleh pemerintah setempat dan patung itu terletak di taman pusat kota. Di atas pundak patung Nextkaliren itu Naskal termenung, ia rindu ingin bertemu dengan orang tuanya yang telah melahirkannya. Dengan rompi jubah gravity yang hampir di pakai oleh seluruh penduduk kota yang membuat mereka bisa terbang melayang. Dari atas patung itu Naskal pun turun. Sampai menyentuh tanah Naskal lalu melepas rompi jubah gravitynya itu. Ia kemudian berjalan melewati taman dengan perasaan dan kerinduan pada ibunya.
   Miyuki ia itu seorang cewek cantik berambut hitam panjang dan ia suka sekali berbusana rumbai-rumbai serba putih. Gadis itu datang melayang dan menghampiri Naskal yang lagi berjalan menunduk sambil menyeret rompi jubah gravity nya.
"Hai, siang!" safa Miyuki setelah menyentukan kakinya di tanah.
"Siang." Naskal merespon tak labih dari itu, ia tetap berjalan menunduk tak berarah.
"Kal! Kamu mau kemana?"
 Naskal tak menjawab, entah kemana ia sedang berpikir.
"Kal ikut aku yuk. Ada sesuatu yang aku ingin tunjukkan."
 Naskal tetap tak merespon. "Ini mengenai? Kau taukan tentang mitos desa Labuhan dan air ajaibnya!"
"Benarkah...," Djun tiba-tiba muncul penasaran.
"Ah...!" Miyuki terkaget. "Suda gila ya? Apa-apaan si," sahutnya spontan.
"Maaf, tak di sengaja? " ujarnya kesenengan. Djun, ia lalu menjejeri sahabatnya itu dan merangkulnya.
"Kal. Kau kenapa si pelit ngomong dari tadi?"
"Dari tadi? Kau sendiri di mana!" sahut Miyuki.
"Itu bukan urusan mu. E iya, tadi kau bilang desa Labuhan dan air ajaibnya. Itu apa maksudnya!"
"Desa ya desa. Emang apa urusannya dengan mu."
"Hi. Dasar cewek, " si tampan itu memperlihatkan cemberutnya.
    Djun, ia memang tampan dan banyak cewek-cewek ke GR an bila dekat dengannya, kecuali Miyuki. Hanya Dia yang tidak mampan oleh pesona ketampanan Djun.
"Djun. . ." Suara membahana terdengar, Segerombolan cewek tiba-tiba datang. Djun tau, ia dengan sigap langsung nyungsep di antara rimbunnya tanaman bunga di taman itu. Dalam sekejab waktu itu. Djun suda tak nampak di tempatnya nyungsep barusan.
    Para cewek-cewek yang mengejarnya itu lalu menyibak-nyibak rerumputan dan bunga. Djun suda tak terlihat batang hidungnya. Entah bagaimana ia bisa secepat itu menghilangnya. Tak peduli dengan Djun, Miyuki tetap mau mengajak Naskal. Setelah beberapa bujukan Naskal akhir mau ikut juga.
     Sejarah singkat. Dari profesor Mbaylong kakeknya Miyuki. Desa Labuhan itu dulunya tak lain adalah nama awal dari kota bernama Ultramegapolitan ini. Setelah bencana besar 'angin muson barat' terjadi dan melululantakkan desa. Pengungsian besar-besaran pun terjadi. Setelah bencana besar lewat. Para penduduk pun kembali dan berusaha membangun lagi desanya. Pembangunan besar-besaran dengan konsep menakjubkan muncul setelah seorang pemuda yatim piatu yang tak di ketahui asalnya bernama Nextkaliren, membuat rancang dena kota Ultramegapolitan. Dan jadilah, desa Labuhan yang hancur oleh bencana besar beruba menjadi kota Ultramegapolitan yang menakjubkan sekarang ini.  


    Depan rumah Miyuki. Naskal masih terlihat lemas tak bersemangat. Dari samping Miyuki, Djun kembali nongol. Seperti tadi Miyuki agak sedikit kaget dengan kemunculan Djun.
"Kau lagi," sinisnya.
"Makasih," Djun tersenyum manis.
"E, bagaimana tadi kau bisa menghilang?" Miyuki penasaran.
"Maksimalkan penggunaan rompi jubah gravity," sahut Naskal.
"Itu? Naskal yang mengajarkan teknik itu barusan," tambah Djun.
"Hem." Miyuki sepetinya tak peduli dengan kata tambahan dari Djun.
 Dari depan pintu rumah besar keluarganya Miyuki.  Ketiganya itu lalu masuk ke dalam dan kemudian menuju ke tempat kerjanya almarhum kakeknya Miyuki. Di tempat itu, Djun celamitan menyibak-nyibak beberapa buku dan barang-barang hasil temuan kakeknya Miyuki itu.
"Yuki, untuk apa kita kesini," tanya Djun tiba-tiba.
   Miyuki lalu mengambil sebuah perkamen gulung dari laci kerjanya almarhum profesor Mbaylong. Di atas meja. Miyuki lalu membuka perkamen tersebut. Perkamen itu bertuliskan huruf yang tidak di mengerti oleh ketiganya.
"Apa ini?" Djun benar-benar tak mengerti.
"Kalian perna dengar tentang mitos desa Labuhan dan air ajaibnya."
"Iya," Djun mengerti. Naskal diam melihat.
"Almarhum kakek perna menceritakan mengenai desa Labuhan tersebut. Dan mengenai air ajaib itu yang benarnya. Kalian taukan tentang Nextkaliren?"
"Siapa yang tidak tau siapa itu Nextkaliren!" sahut Djun.
 "Kakek perna menceritakan pada ku. Dulunya Nextkaliren itu hanya seorang pemuda biasa aja. Mendadak dia muncul dengan pemikiran yang brilian. Jelasnya cuma satu."
"Jadi apa ini ada hubungannya dengan air ajaib itu," sahut Naskal santai.
"Ini menurut apa yang perna di teliti oleh kakek. Sepertinya Nextkaliren perna meminum air tersebut. Dan ia menjadi orang terhebat? Sepanjang sejarah kota ini," Miyuki terlihat serius sekali.
". . . . . . . . . !" (Djun.)
"Sepertinya kakek ingin mengungkap keberadaan dari air ajaib itu. Tapi . . ."
"Kami mengerti," sambut Naskal.
"Kakek hanya meninggalkan perkamen gulung ini. Dan mungkin perkamen inilah petunjuk keberadaan dari air ajaib itu."
    Djun jadi sok tau, ia mengangkat perkamen itu dan melihat dari sudut-sudutnya. Djun bingung sendiri ia tak tau apa yang di carinya. Ia pun meletakkan perkamen itu kembali di atas meja.
"Dari yang aku pikirkan. Sepertinya air ajaib itu bisa mengabulkan keinginan dan membuat sesuatu yang tidak kita pikirkan," jelas Miyuki.
"Apa bisa buat kembali ke massa lalu."
"Nextkaliren aja bisa membuat kota sehebat ini. Mungkin hal itu bisa di lakukan."
   Skilas. Naskal pun tegap dan bersemangat kembali. Kalau bisa ke massa lalu lagi, ia mungkin akan bisa bertemu dengan orang tuanya yang selama ini di rindukannya.
   Setelah dari rumahnya Miyuki. Naskal langsung melesat mengudara kembali ke panti asuhan tempat tinggalnya. Naskal pun mempersiapkan diri tuk cari air ajaib itu. Tak ada waktu lagi. Keinginan bertemu orang tuanya suda jadi prioritas di hidupnya saat ini.
 


   I Love You  Bunda! Aku merindukan mu. Sampai jumpa.

  Lanjut. Pertemuan di perpustakaan school garden utama Ultramegapolitan. Penyelidikan akan di mulai dari tempat itu. Data dari perkamen akan di persalin dan di cari perbendarannya-info dari telfon tak berlabel from Miyuki.
 7 : 03 standbay di depan perpustakaan.