Sebuah rumah yang cukup besar di jalan
Pancasila. Di rumah itu di huni oleh keluarga Hamim. Di rumah itu di mulailah
cerita yang berawal dari Dama anak tertua dari keluarga tersebut.
Kamar lusuh berantakan. Kas ciri dari seorang
anak cowok. Dama pagi itu barusan bangun dari tidurnya. Dengan mata masih
sembab, ia secara otomatis memulai aktivitas paginya yang suda terekam di
benaknya.
Berdiri, ia pun lalu ngeluyur menuju ke
ruangan penuh air. Di dalam situ, kran alam berderai, nyaring berbunyi dan
bikin kenikmatan di dunianya.
Pintu kamar terbuka. Setelan celana jins dan
baju kotak-kotak bercorak garis hijau dan merah jingga dengan daleman kaos
hitam. Dama lalu keluar dari kamarnya itu. Dengan lengan baju di lipat. Dama
pun nyantai melengang. Melewati ruang makan. Bundanya itu memanggil sarapan. Di
ruang makan keluarga Hamim, suda ada Bunda, Ayah, Kakek, Nenek dan dua adiknya
Dian dan Didi.
Tak lama setelah Dama duduk di meja makan.
Dian suda menyelesaikan sarapannya dan di lanjutkan Didi juga suda rampung.
"Ma, pa! Dian pamit
berangkat sekolah dulu ya," pinta si gadis cantik berjilbab putih itu.
Dian lalu bersaliman pada ayah dan bundanya juga pada kakek dan neneknya.
"Hati-hati di jalan ya
sayang," lanjut bundanya.
"Siap bos!" Dian
lalu keluar melewati dapur dan ia langsung melesat mengudara.
"Ma, paDidi juga pamit ya." Didi pun melakukan
yang sama seperti yang di lakukan kakaknya itu. "Kak Dian tunggu...,"
setelah bersaliman, Didi juga langsung menghilang setelah menengok ke belakang.
"Suda waktunya ini. Ma!
Papa berangkat ngantor dulu ya." Bundanya Dama itu lalu mencium tangan
suaminya.
"Hati-hati di jalan
pa..."
"Iya?" cowok
berpenampilan culun berkacamata agak tebal itu lalu keluar dari rumah tampak
melihat ke depan, ia sibuk memeriksa dokumen yang di bawahnya. Dan ia hanya
lewat begitu saja keluar berangkat.
Kakek dan neneknya juga suda selesai sarapan.
Ke duanya lalu keluar dari ruang makan dengan gaya mesra seperti barusan diner
romantis.
"Ma!" tampa basa
basi Dama lalu bersaliman memohon diri.
"Woe, Dama!
Ayo...," teriak Erru teman kuliahnya dari luar. Selesai bersaliman pada
bundanya. Dama segera berlari keluar. Bundanya itu pun mengikuti.
"Dama, hati-hati ya di
jalan. Hanya kamu yang masih belum ...," ujar bundanya.
"Iya, suda tau...,"
Dama terus berjalan keluar dan menemui temannya itu.
Di luar, Erru suda standbay di atas motor
vespanya.
"Ayo, suda siap!"
langsung Erru.
"Oke!" Dama lalu
duduk di belakang Erru dengan mengenakan helm dari temannya itu barusan.
Dari dalam rumah. Suara musik metalika pun
berkumandang keras. Dengan nyanyian menghentak-hentak.
"Dam, kira-kira papa mu,
tau ndak dengan selera musik mamamu itu," tebak tanya Erru.
"Suda. Ayo, jalan
aja!" pintanya.
Si vespa kesayangan Erru itu pun melaju dengan
suara mengerikannya.
End, cukup pengenalannya. Dan
para pemeran yang lainnya dan akan muncul nanti, tunggu aja OC
Mitos sejarah. Sebuah desa
antabranta bernama Labuhan. Di desa itu konon terdapat suatu air ajaib yang
memiliki khasiat, barang siapa yang meminum air tersebut niscaya orang itu akan
memiliki kehebatan mumpuni. Dan desa itu di kenal hanya sebuah mitos belakah
oleh masyarakat yang belum ada yang tau keberadaannya.
Tahun 2345. Di tahun ini tidak ada perubahan
sama sekali seperti masa berpuluh-puluh tahun yang lalu. Manusia masih terbang
melayang di atas tanah. Bulan tetap jadi tempat favorit untuk bulan madu. Dan
planet mars jadi surga belanja bagi para manusia alien.
Naskal, ia seorang yatim piatu yang saat ini
tinggal di panti asuhan. Naskal memiliki seorang teman yang cukup akrab
dengannya namanya adalah Djun.
Nextkaliren ia adalah seorang pahlawan besar
dari kota yang bernama Ultramegapolitan ini. Beliau adalah orang yang menggagas
konsep sistem pembangunan kota super modern hingga jadi kota yang seperti
sekarang ini. Atas jasanya itu, Nextkaliren di buatkan sebuah patung raksasa
oleh pemerintah setempat dan patung itu terletak di taman pusat kota. Di atas
pundak patung Nextkaliren itu Naskal termenung, ia rindu ingin bertemu dengan
orang tuanya yang telah melahirkannya. Dengan rompi jubah gravity yang hampir
di pakai oleh seluruh penduduk kota yang membuat mereka bisa terbang melayang.
Dari atas patung itu Naskal pun turun. Sampai menyentuh tanah Naskal lalu
melepas rompi jubah gravitynya itu. Ia kemudian berjalan melewati taman dengan
perasaan dan kerinduan pada ibunya.
Miyuki ia itu seorang cewek cantik berambut
hitam panjang dan ia suka sekali berbusana rumbai-rumbai serba putih. Gadis itu
datang melayang dan menghampiri Naskal yang lagi berjalan menunduk sambil
menyeret rompi jubah gravity nya.
"Hai, siang!" safa
Miyuki setelah menyentukan kakinya di tanah.
"Siang." Naskal
merespon tak labih dari itu, ia tetap berjalan menunduk tak berarah.
"Kal! Kamu mau
kemana?"
Naskal tak menjawab, entah kemana ia sedang
berpikir.
"Kal ikut aku yuk. Ada
sesuatu yang aku ingin tunjukkan."
Naskal tetap tak merespon. "Ini mengenai?
Kau taukan tentang mitos desa Labuhan dan air ajaibnya!"
"Maaf, tak di sengaja?
" ujarnya kesenengan. Djun, ia lalu menjejeri sahabatnya itu dan
merangkulnya.
"Kal. Kau kenapa si
pelit ngomong dari tadi?"
"Dari tadi? Kau sendiri
di mana!" sahut Miyuki.
"Itu bukan urusan mu. E
iya, tadi kau bilang desa Labuhan dan air ajaibnya. Itu apa maksudnya!"
"Desa ya desa. Emang apa
urusannya dengan mu."
"Hi. Dasar cewek, "
si tampan itu memperlihatkan cemberutnya.
Djun, ia memang tampan dan
banyak cewek-cewek ke GR an bila dekat dengannya, kecuali Miyuki. Hanya Dia
yang tidak mampan oleh pesona ketampanan Djun.
"Djun. . ." Suara
membahana terdengar, Segerombolan cewek tiba-tiba datang. Djun tau, ia dengan
sigap langsung nyungsep di antara rimbunnya tanaman bunga di taman itu. Dalam
sekejab waktu itu. Djun suda tak nampak di tempatnya nyungsep barusan.
Para cewek-cewek yang mengejarnya itu lalu
menyibak-nyibak rerumputan dan bunga. Djun suda tak terlihat batang hidungnya.
Entah bagaimana ia bisa secepat itu menghilangnya. Tak peduli dengan Djun,
Miyuki tetap mau mengajak Naskal. Setelah beberapa bujukan Naskal akhir mau
ikut juga.
Sejarah singkat. Dari profesor Mbaylong
kakeknya Miyuki. Desa Labuhan itu dulunya tak lain adalah nama awal dari kota
bernama Ultramegapolitan ini. Setelah bencana besar 'angin muson barat' terjadi
dan melululantakkan desa. Pengungsian besar-besaran pun terjadi. Setelah
bencana besar lewat. Para penduduk pun kembali dan berusaha membangun lagi
desanya. Pembangunan besar-besaran dengan konsep menakjubkan muncul setelah
seorang pemuda yatim piatu yang tak di ketahui asalnya bernama Nextkaliren,
membuat rancang dena kota Ultramegapolitan. Dan jadilah, desa Labuhan yang
hancur oleh bencana besar beruba menjadi kota Ultramegapolitan yang menakjubkan
sekarang ini.
Depan rumah Miyuki. Naskal masih terlihat
lemas tak bersemangat. Dari samping Miyuki, Djun kembali nongol. Seperti tadi
Miyuki agak sedikit kaget dengan kemunculan Djun.
"Kau lagi,"
sinisnya.
"Makasih," Djun
tersenyum manis.
"E, bagaimana tadi kau
bisa menghilang?" Miyuki penasaran.
"Maksimalkan penggunaan
rompi jubah gravity," sahut Naskal.
"Itu? Naskal yang
mengajarkan teknik itu barusan," tambah Djun.
"Hem." Miyuki
sepetinya tak peduli dengan kata tambahan dari Djun.
Dari depan pintu rumah besar keluarganya
Miyuki.Ketiganya itu lalu masuk ke
dalam dan kemudian menuju ke tempat kerjanya almarhum kakeknya Miyuki. Di
tempat itu, Djun celamitan menyibak-nyibak beberapa buku dan barang-barang
hasil temuan kakeknya Miyuki itu.
"Yuki, untuk apa kita
kesini," tanya Djun tiba-tiba.
Miyuki lalu mengambil sebuah perkamen gulung
dari laci kerjanya almarhum profesor Mbaylong. Di atas meja. Miyuki lalu
membuka perkamen tersebut. Perkamen itu bertuliskan huruf yang tidak di
mengerti oleh ketiganya.
"Apa ini?" Djun
benar-benar tak mengerti.
"Kalian perna dengar
tentang mitos desa Labuhan dan air ajaibnya."
"Iya," Djun
mengerti. Naskal diam melihat.
"Almarhum kakek perna
menceritakan mengenai desa Labuhan tersebut. Dan mengenai air ajaib itu yang
benarnya. Kalian taukan tentang Nextkaliren?"
"Siapa yang tidak tau
siapa itu Nextkaliren!" sahut Djun.
"Kakek perna
menceritakan pada ku. Dulunya Nextkaliren itu hanya seorang pemuda biasa aja.
Mendadak dia muncul dengan pemikiran yang brilian. Jelasnya cuma satu."
"Jadi apa ini ada
hubungannya dengan air ajaib itu," sahut Naskal santai.
"Ini menurut apa yang
perna di teliti oleh kakek. Sepertinya Nextkaliren perna meminum air tersebut.
Dan ia menjadi orang terhebat? Sepanjang sejarah kota ini," Miyuki
terlihat serius sekali.
". . . . . . . . .
!" (Djun.)
"Sepertinya kakek ingin
mengungkap keberadaan dari air ajaib itu. Tapi . . ."
"Kami mengerti,"
sambut Naskal.
"Kakek hanya
meninggalkan perkamen gulung ini. Dan mungkin perkamen inilah petunjuk
keberadaan dari air ajaib itu."
Djun jadi sok tau, ia mengangkat perkamen itu
dan melihat dari sudut-sudutnya. Djun bingung sendiri ia tak tau apa yang di
carinya. Ia pun meletakkan perkamen itu kembali di atas meja.
"Dari yang aku pikirkan.
Sepertinya air ajaib itu bisa mengabulkan keinginan dan membuat sesuatu yang
tidak kita pikirkan," jelas Miyuki.
"Apa bisa buat kembali
ke massa lalu."
"Nextkaliren aja bisa
membuat kota sehebat ini. Mungkin hal itu bisa di lakukan."
Skilas. Naskal pun tegap dan bersemangat
kembali. Kalau bisa ke massa lalu lagi, ia mungkin akan bisa bertemu dengan
orang tuanya yang selama ini di rindukannya.
Setelah dari rumahnya Miyuki. Naskal langsung
melesat mengudara kembali ke panti asuhan tempat tinggalnya. Naskal pun
mempersiapkan diri tuk cari air ajaib itu. Tak ada waktu lagi. Keinginan
bertemu orang tuanya suda jadi prioritas di hidupnya saat ini.
I Love YouBunda! Aku merindukan mu. Sampai jumpa.
Lanjut. Pertemuan di
perpustakaan school garden utama Ultramegapolitan. Penyelidikan akan di mulai
dari tempat itu. Data dari perkamen akan di persalin dan di cari
perbendarannya-info dari telfon tak berlabel from Miyuki.